" Seharusnya
bisa menahan diri. Benar untuk pergi saja, kita masih bebas memilih dengan
siapa, dan lebih mencari yang baik. Hati menarik untuk tetap tinggal, sedangkan
rasa sudah tidak mungkin bisa. Aku menarik rasa paksa, memeluk erat untuk tidak
kembali pergi. Memaksa untuk rasa selalu tinggal. Mengapa sulit mendapatkan
kesempatan. Akan selalu ada sedih yang mengikuti gelap tersudut pada rongga
dada. Terlalu memaksakan untuk sesuatu yang sudah tidak mau tinggal. Jangan
paksa hati, sulit untuk menjalani apa yang seharusnya pergi. Mengapa terus
memaksa hingga mengurai memohon. Biar saja sakit sendiri. Dia jangan, aku
membuat kesepakatan dengan hati, aku akan menjadi lebih baik untuk dia, untuk
menjadi apa yang dia inginkan selama ini yang tidak bisa aku beri. Aku mampu
menjadi bukan diriku demi satu kesempatan dengan paksa. Aku mulai merubah aspek
dengan waktu yang singkat, ternyata menkadi apa yang selalu tulus terus saja
mendapat rasa nyeri yang luar biasa, aku memaafkan untuk apa yang terjadi untuk
bisa tersenyum melihatmu berbeda. Aku akan selalu baik agar tidak melihat kamu
kembali berlari, sulit juga untuk menjadi yang terbaik. Aku mengerti rasa
sakitmu dulu. Aku kembali tulus, tapi telat untuk waktu. Jika begitu, mengapa
menyuruhku untuk mencintaimu, mengapa kamu selalu menjadikan selamanya
sedangkan kamu juga yang melangkah pergi. Aku hanya belum bisa saja menerima
kepergian kamu, belum betul siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya,
biarkan saja rasa ini hilang dengan rasa sakit yang kamu buat. Tetapi mengapa
aku selalu kuat? Aku ingin berhenti mengakhiri. Aku mengerti dengan rasa tulus
yang dimainkan. Aku sedang menunggu waktu untuk pergi saja. "
" Aku tau cepat atau lambat, semuanya akan bergulir hilang. Perlahan menjauh, seketika berbeda. Hidup adalah siklus memanjang. Ada dimana harus berhenti, kamu tau begitu banyak frasa yang aku ukir selama ini? Dan nanti harus hilang untuk orang lain? Kamu fikir ini lucu? Aku mengumpulkan guji hati dan nanti harus dipaksa hilang. Nanti pasti ada saatnya dimana aku bertemu denganmu dan jantungku tidak lagi berdegup seirama. Akan ada saat dimana kita akan saling kembali tertawa dengan status yang berbeda. Aku takut untuk hal itu, aku takut mengubah segalanya yang sudah menjadi keterbiasaan. Aku tau, sendiri tidaklah setakut itu. Aku hanya takut, jika sudah tidak bersama kamu akan bahagia dengan cepat. Sedangkan kamu pernah lama mengumpulkan bahagia bersamaku. Akankah, kau juga akan seperti aku? Takut untuk memulai dan lebih baik melangkah kembali? Aku selalu menjadi rumah untuk kamu kembali. Aku pernah menjadi sesuatu yang selalu membuatmu nyaman. Aku yang selalu menunggumu pulang. Tidak kah selama ini kita sudah berusaha untuk membangun sesuatu yang indah bersama. Aku hanya takut, kamu memilih kembali berlari. Dan aku tidak bisa kembali menggapaimu, melihat kamu yang semakin jauh. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar