Terik, berpilu pelukis
Siang terik, Elegi
Seraya lihat, langit-langit rasa amat biru
Tentang sekat itu,
Tentang dia
Kulihat pelupuknya, saat dia menatap
Ria, dia
Seraya terpingkal, tutupi dalihnya
Atas lara, yang dapat terbaca
Memburai, hati tak beraturan
Signifikan, dia
Tentang rasanya, matanya, balada
Telak, sukma jua berahi tak tahankan
Singgah, dia
Memberhentikan, dengan ribuan waktu tabu
Aroma, dia
Pemecah sekat-sekat
Terhantam, waktu dalam kelukis mendayu
Renjana, butir-butir peluh
Meramu rasa, dan dia pulang
Menuai rindang
Buyar, rindang
Menari dengan sepi, pengap
Jemu melekat, seorang diri
Dalam singgasana, tanpa warna
Datangkan, satu yang tetap
Menunggu sama, pagi hingga malam
Di hujan yang sama
Di terik terasa sama
Bahkan, dalam waktu tanpa sekat tidak semu
Gusar, sulit mereda
Datanglah, potret, tanpa terpinta
Masuklah sukmanya, telak terdapat
Dalih-dalih teracik
Terbuai, makan tuan
Singgasana, ria dengan pemeran pengganti
Rintih, memburai
Abu-abu mala sempat lihat
Pelupuk sayu, rasa terlemah
Memburai, di singgasana
Dengan dua pelukis
Bagian kesukaan
Harum, aromanya
Seorang signifikan
360 hari dengan segala macam rasa
Ada yang merasuk dalam sukma
Nyatanya itu rasanya
Tidak beraturan, rindang tetap harum
Bagian kesukaan dia
Segala objek terindah dalam hidup
Sekat-sekat itu memang tanpak
Menuai, telak sendiri rasa
Tabu, rasakan lagi
Berlarilah
dan hantam renjana sisa
Oranye
Dan, kembali jatuh cinta
Pada laki-laki yang entah siapa
Ketika dia adalah teman disegala cuaca
Ketika dia adalah tawa-tawa yang baru
Kembali,
Kubuku, tempuhan denngannya
Ketika langit yang takbiru
Adalalah dirinya
Ketika tatapannya yang dingin
Ketika kulihat pengharapan padanya
Ketika kembali lagi, kujalani
Dan kembali, merekat
Pada dia, yang kelak
Kembali ku cintai
fana
Tarian, seraya pilu bersama mendayunya sayup
Terdengar, terpingkal-terpingkal ringkih
Tawa yang nyatanya kesedihan
Merintih, menerjang garis waktu
Dimana waktu tak pernah terhenti
Mala, disegala renjana
Membiru diri
Semu bahagiaku
Tabu, lalu sendiri di ruang nostalgia
Bahagia itu siapa
Kuingin memilikinya,
Bahagia, yang jua menuai lagi
Fana